ISIS Klaim Serangan Bom Bunuh Diri Tewaskan 31 di Islamabad

Kelompok ISIS mengklaim bertanggung jawab atas bom bunuh diri di Masjid Imam Bargah Qasr-e-Khadijatul Kubra, pinggiran Islamabad Pakistan, Jumat (6/2/2026), yang tewaskan 31 jemaah Syiah saat salat Jumat dan luka 169 lainnya—serangan paling berdarah di ibukota sejak bom Marriott 2008.​

Kronologi dan Klaim ISIS

Pelaku tembak penjaga gerbang sebelum ledakkan rompi bom di saf belakang masjid ramai, foto militan bermasker dirilis via Telegram ISIS yang sebut “menarget kafir Syiah”; otoritas konfirmasi korban naik dari 25 ke 31, mayoritas warga sipil.
Di Jawa11, insiden ini ironis: Pakistan perkuat sekuriti anti-teror pasca-Taliban, tapi celah urban seperti Tarlai jadi sasaran lunak—soroti intelijen gagal deteksi radikalisasi lokal ISIS-K.​
PM Shehbaz Sharif janji adili pelaku, tapi riwayatnya tunjukkan propaganda lebih cepat daripada keadilan.​

Konteks Sectarian dan Global

Serangan Sunni radikal ke Syiah ulang pola: ISIS-K (cabang Khorasan) incar Pakistan sejak 2022 (100+ serangan), picu ketegangan Sunni-Syiah yang rawan konflik sipil di Punjab/KPK; India tuduh Pakistan biayai, meski bukti nol.
Kritik tajam: pasca-OP Zarb-e-Azb, ISIS tetap kuat via rekrut online TikTok; pemerintah Imran Khan-Prabowo abaikan de-radikalisasi masjid pinggiran, prioritas elit kota saja.​
Korban trauma massal: rumah sakit overload, keluarga ratap di lokasi puing—gambaran kegagalan state fragility di negara nuklir.​

Respons dan Dampak Regional

Militer Pakistan kerahkan CTD tambah patroli masjid Syiah, AS-China kutuk serangan; tapi efektivitas diragukan tanpa address akar: kemiskinan 40% Islamabad dan proxy war Afghan spillover.​
Implikasi Indo-Pak: eskalasi bisa tutup perbatasan, ganggu remittance US$30 miliar; global, ISIS-K tunjukkan pemulihan pasca-kalah di Suriah—Iraq.​
Tanpa koalisi intel ASEAN-SAARC, teror ini bakal rutin—alarm buat Indonesia yang diaspora Pakistan rawan radikalisasi.

Pantau konflik Timur Tengah di CNN atau kembali ke Beranda.​