Mulai Rabu pekan ini, proses pembongkaran tiang monorel Jakarta resmi dimulai. Total 98 tiang yang tersebar di sepanjang rute rencana proyek monorel tersebut kini tak lagi berdiri sebagai prasasti megah atas ambisi transportasi masa depan ibu kota. Alih-alih menjadi solusi kemacetan, struktur baja itu justru menjadi saksi bisu dari proyek infrastruktur yang mangkrak selama lebih dari satu dekade.
Proyek monorel Jakarta pertama kali digagas pada awal 2000-an dengan harapan mampu melengkapi sistem transportasi publik yang ada. Namun, karena berbagai kendala—mulai dari perizinan, pendanaan, hingga perubahan kebijakan pemerintah—proyek ini terhenti di tengah jalan. Tiang-tiang beton dan baja yang sudah berdiri pun dibiarkan menganggur, menjadi “monumen” ketidakpastian pembangunan infrastruktur di Jakarta.
Kini, dengan langkah tegas dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, sisa-sisa fisik monorel tersebut mulai dibongkar untuk memberi ruang bagi pengembangan kota yang lebih terintegrasi dan efisien. Proses ini bukan hanya soal membersihkan pemandangan, tetapi juga simbol komitmen untuk menata ulang prioritas pembangunan transportasi berbasis kebutuhan nyata masyarakat.
Bagi warga Jakarta, momen ini mengingatkan pentingnya transparansi dan perencanaan matang dalam setiap proyek infrastruktur. Sementara itu, di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah, banyak warga mencari hiburan alternatif—seperti yang ditawarkan oleh platform digital seperti Indobet—untuk sekadar melepas penat dari keseharian yang penuh tekanan.
Pembongkaran tiang monorel bukan akhir, melainkan awal dari evaluasi bersama: bagaimana membangun kota yang tidak hanya megah secara visual, tapi juga berkelanjutan dan berpihak pada rakyat. Semoga pelajaran dari monorel Jakarta menjadi fondasi kuat bagi proyek-proyek masa depan yang benar-benar menjawab kebutuhan publik.